Skip to content

Buktikan Untuk Mereka !

Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman satu kelompok mendapatkan giliran untuk mempresentasikan sebuah topik yang selalu menarik untuk diperbincangkan, tentang sistem pendidikan. Pada tulisan kali ini saya tidak akan membahas mengenai presentasi kami, tapi hanya akan saya ceritakan yang saya rasa bisa menjadi catatan untuk saya dan Anda.

Seperti biasa, saya ditunjuk oleh teman-teman kelompok untuk menjadi ‘main speaker’ pada presentasi kali ini. Beberapa jam sebelum masuk kelas, saya menyempatkan ke Perpustakaan Kota Jogja di Kotabaru, untuk mempersiapkan presentasi. Walaupun ini hanya presentasi kelas biasa, tapi kalau segalanya dipersiapkan insyaAllah semuanya pasti akan berjalan lebih lancar, begitu pikir saya.

Beberapa menit membaca materi presentasi, pikiran saya sudah tidak fokus. Alhasil saya malah buka browser dan surfing di internet mencari bahan bacaan yang menarik. Dari satu blog ke blog yang lain, dari satu artikel ke artikel yang lain. Haduh -_- .

Dalam presentasi kali ini kami tidak sekedar memaparkan hasil diskusi kami. Untuk menghidupkan suasana agar tidak kaku dan konvensional, kami mengajak dosen dan teman-teman menonton cuplikan film dari negeri Taj Mahal, “3 Idiots”. Sebuah film yang menurut saya sangat mewakili beberapa poin dari presentasi kami. Mungkin sebagian besar dari Anda sudah pernah menonton film ini. Bagaimana? sangat menghibur sekaligus menginspirasi  bukan?

Salah satu scene yang kami tampilkan adalah ketika Rancho dan kawan-kawan akan lulus dari Imperial College of Engineering. Mereka bertiga memiliki karakter dan ketertarikan masing-masing pada salah satu bidang. Farhan Qureshi adalah orang yang sejak dulu selalu tertarik dengan dunia fotografi, terutama tentang seni fotografi alam. Dia terpaksa kuliah di Teknik untuk memenuhi impian ayahnya. Raju Rastogi tidak jauh berbeda dengan Farhan, mereka berdua hanya mahasiswa rata-rata. Tujuan Raju kuliah adalah untuk menaikkan derajat dan ekonomi keluarganya. Sedangkan Rancho adalah seorang jenius dari keluarga yang sangat mapan, meski pada akhir film kita tahu bahwa dia sebenarnya hanya anak seorang tukang kebun di keluarga kaya raya. Namun, Rancho mempunyai keistimewaan yang tidak semua orang memilikinya. Dia selalu berpikir berbeda. Dan dia selalu berhasil menginspirasi orang lain dengan cara berpikirnya. Rancho adalah seorang tipe mahasiswa yang langka, dari dulu dia belajar untuk kesenangan, bukan untuk berlomba-lomba mengejar rangking tertinggi.

Oke, saya tidak perlu menceritakan film ini lebih banyak lagi. Anda bisa menontonnya jika ada waktu. Singkat cerita ketika kelompok kami selesai memaparkan hasil diskusi kami, dibukalah sesi pertanyaan. Alhamdulillah, presentasi cukup mendapatkan perhatian dari audiens. Cukup banyak teman-teman yang ingin mengajukan pertanyaan. Ada satu pertanyaan dari seorang teman yang menjadi catatan untuk saya. “Bagaimana jika Anda menjadi seorang Farhan? Maksudnya saya, bagaimana jika Anda dihadapkan pada suatu pilihan dimana Anda ingin menjadi apa yang Anda inginkan, namun di lain pihak yaitu orang tua sangat ingin Anda menjadi apa yang mereka inginkan?”

Sebuah pertanyaan yang bagus, saya pikir. Dan sebuah kebetulan, tadi pagi di Perpus saya juga membaca tentang topik serupa :D. Tanpa membuang waktu saya langsung menjawab pertanyaan dari si penanya.

Setiap orang selalu punya pilihan, apapun keadaannya, sesulit apapun kondisinya. Dalam film ini Farhan dihadapkan pada pilihan apakah dia akan mengikuti interview masuk perusahaan, sesuai dengan keinginanan ayahnya, atau menjadi seorang wildlife photographer seperti yang ia cita-citakan. Sebuah pilihan akan menghasilkan konsekuensi dari apa yang kita pilih. Dan setiap orang butuh BUKTI. Ya, setiap orang. Termasuk orang tua kita.

Saya sempat melayangkan sebuah pertanyaan kepada audiens. “Sekarang saya tanya, apakah teman-teman mencintai orang tua kalian?” Kontan seluruh audiens menjawab, “Ya.” Kemudian saya bertanya lagi, “Apa buktinya?!” Sesaat kelas menjadi hening. Saya melanjutkan, “Ya, setiap orang butuh bukti. Bahkan Allah juga butuh bukti. Oleh karena itulah Dia menguji kita. Bukan begitu? 🙂 ”

Pada kalimat-kalimat selanjutnya saya memberikan tips-tips bagaimana jika kita ada dalam posisi itu. Entah sebuah kebetulan atau bukan, saya juga sedang mengalami hal ini. Jadi saya cukup tahu bagaimana perasaannya jika di hadapkan pada pilihan seperti ini. Yang pertama, taatilah semua perintah dan keinginan orang tua, selama itu adalah halal. Jangan sampai mengecewakan orang tua. Niatkan semua yang kita lakukan untuk berbakti kepada Allah. Ingat, satu dari tiga hal yang paling dicintai Allah adalah birul walidain, berbakti kepada kedua orang tua. Lalu bagaimana dengan passion yang kurang direstui oleh tua? Saran saya, jaga passion itu. Selama passion itu baik dan tidak dilarang Allah tidak masalah Anda tetap mempertahankannya. Siapa tahu ketika Anda selalu nurut kepada orang tua, mereka akan merestui keinginan Anda. Kalaupun tidak, pasti Allah punya jalan yang lebih baik. Tinggal Anda mau percaya atau tidak. Kalau saya sih percaya saja :).

Yang kedua, prioritaskan waktu untuk orang tua kita. Nikmatilah waktu-waktu bersama mereka. Sesibuk apapun Anda, luangkan waktu untuk mereka. Saya memang belum pernah menjadi orang tua, tapi saya rasa waktu terbaik bagi mereka adalah saat mereka menghabiskan waktu bersama kita, anaknya. Mau tidak mau Anda harus menempatkan mereka di prioritas utama Anda. Seperti mereka dulu selalu mengutamakan kita di atas urusan mereka yang lain. Bagi saya, meluangkan dan menghabiskan waktu bersama mereka selalu berhasil membuat saya merasa nyaman, aman, dan bahagia. Setiap kali menghabiskan quality time bersama orang tua selalu membuat saya kembali bersemangat. Salah satu efek yang ‘mengena’ untuk saya adalah, saya selalu teringat bahwa saya hidup bukan untuk diri saya sendiri. Saya juga hidup untuk mereka, orang-orang yang sangat mencintai saya terutama orang tua saya. 🙂

Lalu yang ketiga, adalah jadilah ladang amal jariyah yang subur untuk mereka. Hampir semua yang kita lakukan adalah hasil didikan dari mereka. Maka, ketika kita berbuat baik, itu akan menjadi kebaikan untuk kita juga orang tua kita. Sebaliknya, ketika kita berbuat yang tidak baik, itu akan menjadi siksa untuk kita dan juga orang tua kita. Apakah Anda tega menyiksa orang tua Anda, yang telah membesarkan Anda dan mendidik Anda mati-matian?! Ingat ! Setiap orang tua ingin anaknya lebih baik dari mereka. Dan mereka rela dikecewakan oleh siapapun, tapi tidak oleh anaknya sendiri.

Intinya, buktikan, buktikan, dan buktikan ! Ketika kita telah membuktikan sesuatu kepada orang tua, bahwa apa yang kita inginkan adalah untuk kebaikan mereka dan kita, mereka pasti akan mengerti dan sepenuhnya mendukung kita. 🙂

Baiklah, semoga tulisan saya ini menjadi manfaat untuk saya dan Anda. Kita tahu, kita bukan orang sempurna yang tidak pernah berbuat salah. Pasti setiap orang pernah berbuat salah bukan? Tapi, masa lalu adalah masa lalu, tugas kita adalah menatap masa depan. Perbaikilah kesalahan dengan kebaikan. Semoga kita termotivasi untuk berubah lebih baik lagi. Sip, semangat !

Salam saya untuk orang tua Anda ! 🙂

Published inInspirasiJejak

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: