Skip to content

Individualis ?

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang mempersiapkan perjalanan ke luar kota, ada seorang adik kelas yang bertanya kepada saya melalui SMS. Sedikit kaget sebenarnya, karena adik kelas saya yang satu ini sudah jarang berkomunikasi dengan saya. Maklum, sekarang dia sudah di tahun terakhirnya di SMA Teladan. Ternyata masih sempat walau hanya menanyakan kabar dan sedikit bertanya :).

Apa yang dia tanyakan sebenarnya cukup mengagetkan bagi saya. Karena kebetulan dulu saat di usia yang sama dengannya saat ini pernah terpikir pertanyaan yang mirip. Sebuah pertanyaan yang muncul akibat respon dari keadaan lingkungan.

“Semakin kita besar, dunia kok terasa semakin individualis.”

Itu salah satu kalimat dari SMS adik kelas saya. Kemudian dia menanyakan bagaimana saya menghadapi situasi seperti ini. Tetapi, karena ketika itu saya sedang mempersiapkan barang-barang keperluan untuk ke luar kota, saya tidak sempat membalasnya. Jawaban sudah terpikir, hanya tidak tersempatkan. Nanti, insyaAllah kalau ketemu pasti akan saya jawab, gumam saya.

Alhamdulillah, tadi siang hingga sore saya menyempatkan datang ke SMA Teladan. Sebuah sekolah tua dimana saya pernah menggali pelajaran yang sangat luar biasa tak ternilai dari sana :). Bertemu dan bertegur sapa dengan guru-guru dan adik-adik kelas yang sangat ramah. Dan atmosfer khas yang selalu menyelimuti SMA Teladan, kekeluargaan :).

Saya menyempatkan untuk bertemu dengan adik kelas yang tempo hari mengirim SMS kepada saya. Kami sempatkan untuk mengobrol, menanyakan kabar, menanyakan tentang beberapa rencana kedepan, dan saya memenuhi janji saya, menjawab pertanyaan yang belum saya jawab.

Menurut saya walaupun manusia adalah makhluk sosial, yang suka berhubungan dengan orang lain, manusia juga makhluk individu yang pasti mempunyai ego atau sifat ke-aku-an. Saat kita kecil pasti ada rentang umur dimana kita sangat posesif terhadap suatu barang, orang atau apapun. Seakan semuanya adalah milik kita. Namun, seiring kita tumbuh besar, kita mulai faham arti kata kepunyaan.

Walau begitu, di usia yang menginjak dewasa pun kita pasti akan punya sifat itu. Misal, kita selalu ingin menjadi yang terbaik dalam perlombaan. Kita selalu ‘ngotot’ untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi ini wajar. Justru kita harus punya sifat seperti ini. Maksud saya sifat dimana kita memperjuangkan apa yang patut kita perjuangkan.

Mungkin, situasi yang sedang dialami oleh adik kelas saya adalah masa-masa ketika siswa tahun terakhir berjuang mati-matian belajar agar mendapatkan hasil yang terbaik. Pasti ada transisi dari kelas X dan kelas XI SMA yang umumnya suka dengan bermain dan ‘ngumpul bareng’ bersama teman-teman lainnya, ketika sudah mulai kelas XII mayoritas sudah beralih fokus belajar untuk ujian akhir. Di masa ini-lah sifat ke-individualis-an siswa sangat terlihat.

Memang tidak ada yang salah dengan mereka. Sama sekali tidak ada yang salah. Justru dari sinilah kita bisa mengambil hikmah. Karena, sedekat apapun Anda dengan teman Anda, seakrab apapun Anda dengan mereka, pasti Anda butuh dan harus bisa berjuang menyelesaikan ujian Anda sendiri. Katakanlah Anda dan teman-teman Anda curang dalam ujian sekolah. Tapi, apa Anda bisa curang dalam ujian hidup?!

Pada akhirnya kita harus bisa berjalan dengan kaki kita sendiri. Pada akhirnya kita memang harus bisa menyelesaikan apa yang harus kita selesaikan. Dan pada akhirnya kita harus berani mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan. Itu adalah hikmah yang harus kita ambil ketika kita menghadapi segala cobaan dalam hidup ini. Tidak selamanya kita didampingi oleh keluarga kita atau teman kita. Pada kehidupan akhirat kelak pun kita harus mampu berdiri di atas kaki kita sendiri, mempertanggungjawabkan semua yang pernah kita jalani di dunia ini.

Lalu, apa kita harus acuh dengan lingkungan dan orang-orang di sekitar kita?

Tidak ! Tentu saja tidak !

Saya tahu, Anda pasti faham maksud saya. Begini, Anda pasti tahu, kapan harus menghadapi sesuatu sendirian dan kapan Anda bisa meng-combine kemampuan Anda dengan orang-orang di sekitar Anda. Boleh memiliki ego, asal jangan egois. Semua ada saatnya, semua ada tempatnya. Kapan kita harus bersikap demikian, dan kapan kita tidak boleh bersikap demikian.

Bagi sebagian orang, life is a race. Tapi tidak bagi saya, mungkin itu hanya untuk mereka yang (maaf) rasa egoisnya terlalu tinggi. Life is a journey. Hidup adalah perjalanan. Itu yang menjadi prinsip untuk saya. Dalam hidup, apakah Anda terus berpacu dan apatis terhadap orang di sekitar Anda? Tidak kan?! Ada keluarga yang jelas adalah orang-orang paling dekat dengan kita. Bagi saya, hidup seperti sebuah perjalanan dimana kita berjuang bersama, menuju kearah yang sama (Tuhan), namun kita wajib bertanggungjawab ‘membawa’ dan ‘menjaga’ barang yang kita bawa sebaik-baiknya. Faham kan? πŸ™‚

Ya, mungkin bisa dianalogikan se-simple itu. Anda boleh mengartikan atau memaknai hidup Anda dengan cara Anda sendiri. Tapi, bersikap bijaklah dalam menyingkapi segala hal yang terjadi. Anda sudah bukan anak-anak lagi kan ? πŸ˜€

Published inJejakRefleksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: