Skip to content

Agar Hatimu Terjaga

Saat kita sakit normalnya kita akan segera berobat. Bisa dengan rawat inap di rumah sakit jika sudah parah atau mendatangi klinik dokter. Jika tidak demikian, pasti keadaan kita tidak segera membaik dan justru semakin parah. Bila dibiarkan maka bisa berakibat fatal. Tentu saja jika sudah begitu akan sangat merugikan. Tidak hanya bagi kita, tapi juga merugikan bagi orang lain disekitar kita, terutama orang-orang yang menyayangi kita. Mereka pasti repot mengurus dan merawat kita. Ya, walaupun mereka tidak pernah merasa direpoti, tapi tentu waktu mereka sedikit banyak akan tersita.

Oke, sekarang mari kita bicara tentang hati. Kebanyakan orang hanya memikirkan sesuatu yang tampak saja. Sehingga, hati sebagai bagian organ yang vital tentu saja harus kita perhatikan. Sadarkah Anda bahwa keadaan hati kita saat ini adalah siapa kita saat ini?

Seorang teman pernah bertanya tentang keadaan hatinya yang menurutnya selalu berubah-ubah. Kadang merasa dekat dengan Allah, kadang atau bahkan sering merasa jauh dengan Allah. Saya paham dengan keadaan tersebut, saya pun juga sering bertanya-tanya dalam hati tentang hal itu. Tapi kenapa bisa demikian?

Ya seperti itulah keadaan hati, selalu berubah, terkadang lebih merasa dekat dengan Allah terkadang merasa jauh dariNya. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda, “Dinamakan hati (al-qalbu) karena cepatnya berubah.” [HR. Ahmad. Lihat Shahih al-Jami’ 2365]

Jika diibaratkan hati kita bak bulu yang dihembuskan oleh angin, selalu berubah arah, tidak menentu.”Perumpamaan hati adalah seperti sebuah bulu di tanah lapang yang diubah oleh hembusan angin dalam keadaan terbalik.” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim. Shahih al-Jami’ 5833]

Semua pasti ada sebab-akibat, termasuk tentang hati. Ada sebab mengapa hati kita lebih dekat dengan Allah, ada juga sebab mengapa sebaliknya. Salah satu faktor kuatnya adalah tentang taat. Ketika kita selalu berbuat sesuai dengan perintah Allah (taat) maka keimanan kita akan bertambah. Dalam hal ini analoginya dengan tubuh kita adalah keadaan dimana badan kita sedang sehat dan bugar. Selalu bersemangat dalam melakukan hal-hal yang baik. Namun, jika kita melakukan maksiat, maka sebagai akibatnya kita hati kita akan sakit. Analoginya seperti sebuah sistem imun yang melemah dan mudah terserang oleh virus dan penyakit. Sehingga akibatnya keimanan kita akan menurun.

Karena keadaan yang tidak menentu itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sering berdo’a kepada Allah,  “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, condongkanlah hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.” [HR. Muslim]

Beberapa tanda bahwa keadaan hati kita sedang tidak baik adalah rasa malas dalam beribadah, apalagi meninggalkan ibadah wajib. Tidak merasakan apa-apa (hambar) ketika mendengar bacaan Al Qur’an, nasihat-nasihat atau berita kematian, juga merupakan salah satu indikasi buruknya keadaan hati kita. Dan yang sering tidak kita sadari adalah kesibukan duniawi yang menenggelamkan dan menyita waktu kita, sehingga kita terlupa dari Allah.

Mengapa itu bisa terjadi? Biasanya adalah karena lemahnya ilmu agama kita. Lalu, mengapa demikian? Karena kita malas untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan tidak bersemangat dalam memprioritaskan kehidupan akhirat di atas kepentingan dunia. Sadar atau tidak sadar kita telah rugi tentang banyak hal, jika sudah demikian.

Ketika kita sudah merasa bahwa keadaan hati kita sedang tidak baik, maka satu-satunya cara untuk sembuh  yaitu dengan pergi ke dokter hati, Allah. Dialah Sang Pemilik hati kita. Hanya dengan mengingat dan mendekatkan diri kepadaNyalah hati ini akan merasa jauh lebih tenang. Segalanya terasa nyaman.

Sebagai obatnya Allah menurunkan Al Qur’an agar kita selalu membaca dan berpegang kepadanya. Al Qur’an sendiri mempunyai nama lain Asy Syifa (penyembuh). Kalau obat yang satu ini dijamin deh tidak ada efek sampingnya, kecuali hati yang sehat tentunya.

Maka jangan heran jika keadaan hati dan iman kita buruk jika membaca Qur’an saja tidak pernah. Masih malas untuk meluangkan waktu untuk membaca Qur’an, apalagi memahami dan menerapkan apa yang ada dalam Al Qur’an.

Oke, saya yakin teman-teman sudah tahu apa maksud saya menulis tulisan kali ini. Mari kita prioritaskan diri kita untuk lebih dekat dengan Allah. Salah satu caranya adalah dengan merutinkan untuk membaca Qur’an. Setiap hari! Pelan-pelan tidak apa-apa, yang penting pasti.

Saya rasa tidak perlu banyak kata ajakan. Jika teman-teman sudah berniat, segera catat. Biar tidak terpulakan lagi. Mungkin sebelum ini teman-teman sudah bertekad akan rutin membaca Qur’an tapi realitanya awalnya iya, selanjutnya sudah malas-malasan lagi. Nah, biar tidak terjadi lagi, catat baik-baik!

Sip, Selamat memperbaiki diri dengan membaca Al Qur’an dan mendekatkan diri lebih dekat kepada Sang Pemilik hati. 🙂

Published inRefleksi

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: