Skip to content

3 J = Jebret, Jeger, Juara!

Tadi malam saya sudah mengagendakan untuk menonton siaran langsung  pertandingan final AFF Cup U-19. Dengan berkostum merah Indonesia, tentu dengan sepenuh hati saya mendukung kesebelasan terbaik (Under 19) bangsa ini, Tim Nasional Indonesia. Dan alhamdulillah, seperti yang kita ketahui tadi malam, Indonesia berhasil menjadi juara di ajang bergengsi ini. Mengalahkan Vietnam dalam adu penalti.

Semua rakyat Indonesia tentu saja sangat bersyukur dengan hasil yang dicapai oleh Garuda Muda kita. Sebuah prestasi yang memang sangat dirindukan oleh pecinta sepakbola tanah air.

Anda tentu masih ingat dengan AFF Cup 2010. Bisa dibilang ketika itu persebakbolaan di Indonesia sedang mengalami masa ‘greget’-nya. Animo masyarakat terhadap sepakbola menanjak tajam. Belum pernah terjadi euforia sebesar itu sebelumnya. Ada sosok Irfan Bachdim dan Christian Gonzales, dua punggawa hasil naturalisasi yang cukup berhasil mendongkrak performa timnas. Ditambah seorang pelatih bertangan dingin Alfred Riedl. Dengan sangat meyakinkan Indonesia berhasil lolos hingga final, bertemu dengan musuh abadi, Malaysia.

Namun, Indonesia harus mengakui keunggulan Malaysia ketika itu. Di dua laga final yang dihelat Indonesia kalah dan harus puas menjadi runner-up di turnamen itu. Sebuah kekalahan ditengah euforia yang luar biasa. Memupuskan jutaan harapan pecinta sepakbola tanah air.

Satu tahun berselang, Indonesia kembali bangkit dan menuai harapan di ajang Sea Games 2011 (Under 23). Indonesia kembali masuk final dan berhadapan dengan Harimau Malaya. Di laga ini Indonesia kalah dramatis dari Malaysia setelah adu penalti. Meski ketika itu Indonesia berhasil keluar sebagai juara umum dalam Sea Games 2011.

Tak hanya disitu saja, kekalahan Indonesia melawan Malaysia harus terulang di final AFF U-16 (di Myanmar) beberapa waktu lalu. Indonesia kalah dengan sangat sangat dramatis dari Malaysia setelah diadakan adu penalti. Sampai menit 90 Indonesia masih unggul 1-0. Namun, di waktu tambahan, kemenangan yang sudah di depan mata buyar oleh gol yang tersarang di gawang Indonesia. Kemudian pertandingan dilanjut hingga adu penalti.

Pada adu penalti pun, Indonesia memiliki peluang emas. Tiga penendang pertama Malaysia gagal mengeksekusi penalti! Sedangkan Indonesia hanya sekali gagal. Skor 2-0 dan Indonesia hanya butuh 1 gol untuk menang. Tapi, entah karena faktor apa, menit-menit selanjutnya justru terbalik 180 derajat. Secara mengejutkan 3 penendang Indonesia gagal mengeksekusi penalti. Sedang 3 penendang Malaysia berhasil menjebol gawang Indonesia. Lagi-lagi harus kalah secara sangat dramatis. Dan lagi-lagi dari musuh bebuyutan, Malaysia.

Tapi, hasil tersebut tidak serta merta adalah kegagalan yang mengecewakan. Justru dengan pengalaman itu mereka yang notabene-nya masih sangat muda (under 16) mendapatkan pengalaman berharga. Kita doakan semoga beberapa tahun kedepan bibit-bibit itu akan banyak membuahkan hasil.

Kemenangan yang sangat membanggakan tadi malam memang menjadi jawaban atas harapan yang selama ini hanya menggantung saja. Sebuah hasil yang menjadi hiburan di tengah carut marutnya negeri ini.

Bicara tentang laga tadi malam, ada satu hal yang cukup menarik: celotehan komentator. Selama memandu para pemirsa MNC TV, komentator bernama Valentino Simanjuntak sering meneriakkan kata “Jebret!” setiap kali salah seorang pemain kita mencoba shooting bola. Sesekali juga dengan kata-kata “Jeger!”. Awalnya memang cukup risih dengan si komentator. Tidak seperti komentator-komentator Liga Inggris yang lebih hemat kata namun berbobot. Tapi lama-kelamaan saya justru ikut-ikutan berteriak “jebret!” saat pemain timnas shooting ke gawang lawan.

Bahkan beberapa kali Valentino Simanjuntak sempat meneriakkan kata-kata mutiara dari pahlawan nasional. Seperti kata-kata dari Jenderal Soedirman, “Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasad ini, tapi jiwaku akan tetap hidup!” Hehe, lucu juga karena ini adalah pertandingan bola, bukannya perang dalam arti sebenarnya. Lalu, ketika Indonesia berhasil mengunci gelar juara, si komentator dengan penuh semangat dan emosional memekikkan kata-kata terkenal dari Ir.Soekarno, ““Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia!” Padahal ini adalah pertandingan sepakbola, dimana yang bermain berjumlah 11 orang. Masa 1 orang tidak dianggap. 😀

Dengan keunikan itu justru teman saya mengapresiasi komentator ini. “Kata-katanya ajaib dan magis. Terbukti Indonesia juara. Besok setiap kali Indonesia main komentatornya Valentino aja. Kali aja menang.” Hehe, bisa saja. Mungkin karena si komentator berkali-kali mengatakan “Mari Saudaraku sebangsa dan setanah air, kita doakan semoga Indonesia bla bla bla.” Sudah seperti orator saja. Tapi memang tadi malam sepertinya banyak yang berdoa dan mengamini kata-kata si komentator.

Yah, semoga dengan kemenangan tadi malam menandakan bahwa kini Indonesia sedang menuju dengan pasti ke arah yang lebih baik. Dari sepakbola, cabang-cabang olahraga, dan sektor-sektor yang vital.

Terima kasih untuk adek-adek punggawa timnas garuda yang telah berjuang mati-matian untuk mewujudkan salah satu harapan kami rakyat Indonesia. Terima kasih sebelas patriot Indonesia. Semoga ini menjadi awal dari kemenangan-kemenangan kita selanjutnya. 🙂

PS: Salah satu pemain timnas U-19, Dinan Yuhdian Javier (nomer punggung 9) adalah putra Bantul yang lolos masuk tim SAD (Sociedad Anónima Deportiva) U-17 dan kebetulan adalah adik kelas saya di SMA Teladan Jogja. Proud of you, Dek. 🙂

Published inLain-lain

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: