Alkisah ada seorang guru bijaksana yang ingin memberikan pesan berharga kepada dua murid kesayangannya. Suatu ketika guru tersebut memanggil kedua muridnya dan memerintahkan keduanya untuk membawa batu dengan berat yang telah ditentukan. Esok harinya mereka menghadap sang guru dan memberikan batu seperti yang diperintahkan.

Ternyata, kedua murid itu membawa batu yang berbeda. Salah satunya membawa kerikil yang banyak karena dia berasal dari daerah yang memang sangat jarang ditemui batu besar, dan satunya membawa dua buah batu yang cukup besar. Tetapi berat total dari batu yang dibawa mereka sama persis, seperti yang diperintahkan oleh guru mereka.

Lalu, sang guru kemudian bertanya singkat kepada yang membawa batu besar, “Apa kamu ingat dimana kamu mengambilnya?”

“Tentu saya ingat, guru. Saya mengambilnya di sebuah tempat dimana banyak sekali batu-batu besar seperti ini.” jawab murid tersebut.

“Lalu kamu, apa kamu ingat dimana kamu mengambil kerikil-kerikil ini.” tanya sang guru kepada si pembawa kerikil.

“Ehm.. saya hanya ingat beberapa saja guru. Saya mengambil kerikil-kerikil ini di sepanjang jalan menuju kesini. Tetapi saya tidak ingat betul dari mana saja saya mengambilnya.” jawab si pembawa kerikil.

“Murid-muridku, sesungguhnya aku menyuruh kalian  untuk membawa batu-batu ini tidak lain karena aku ingin berpesan penting kepada kalian. Batu-batu ini adalah ibarat dosa dan kemaksiatan yang kita perbuat. Dan besar kecilnya batu ini mewakili besar kecilnya dosa kita.

“Seringkali kita menganggap orang yang melakukan dosa besar, mereka lebih rendah daripada kita. Padahal bisa jadi timbangan dosa kita sama dengan mereka. Hanya saja kita LUPA dan TIDAK MENYADARINYA, karena terlalu seringnya kita melakukan dosa-dosa kecil itu.”

Sahabat pembaca yang dirahmati Allah. Sudah sepantasnya kita lebih mengenal diri kita dan selalu mencegah setiap kali nafsu akan menguasai diri kita dari iman. Tidak sepantasnya pula kita menghakimi orang lain karena dosa dan kemaksiatan yang telah mereka perbuat, karena mungkin kita tidak lebih baik dari mereka. Allah-lah yang lebih tahu. Kita tidak berkapasitas untuk menganggap apakah kita lebih baik apakah mereka lebih rendah.

Sepatutnya kita selalu waspada dengan dosa-dosa besar dan lebih berhati-hati dengan dosa-dosa kecil. Karena bisa jadi dosa-dosa itu adalah kerikil-kerikil kecil yang membuat tabungan pahala kita bocor. Bisa jadi dosa-dosa kecil itu yang kemudian menjadi penyebab ditangguhkannya doa-doa kita, dan dihalanginya kita dari ilmu.

Mari ambil pelajaran dari kisah (fiksi) singkat ini. Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang taat.

Categories: Old Blog Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: