Ramadhan tahun ini kebetulan saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar kota. Hanya weekend saja bisa pulang ke Jogja. Jadi saya manfaatkan betul 2-3 hari di rumah. Seperti main bersama keponakan saya, membantu Ibu saya plus bercanda dengan orang rumah, juga membantu remaja masjid di kampung. Sebenarnya kurang lama, tapi mau bagaimana lagi. Ada amanah yang harus diselesaikan. Tapi walau bentar, jika kita manfaatkan insyaAllah cukup. Atau terkadang ‘dicukup-cukupkan’ saja. 😀

Salah satu agenda rutin saya di bulan Ramadhan kali ini adalah menjadi imam shalat isya’ dan tarawih sekaligus ceramah. Meski sudah lumayan terbiasa, tapi jujur saja, saya masih belum yakin dengan diri saya. Hafalan saya masih sedikit dan ilmu saya juga masih dangkal. Berasa kecil. Malu jika di bandingkan dengan mereka yang diumur belia sudah hafal Quran. Tapi, dari sini saya mendapat banyak sekali motivasi untuk meningkatkan kapasitas diri yang masih sempit ini.

Tadi malam selepas shalat tarawih, saya menyampaikan ceramah singkat tentang utamanya ilmu tauhid. Hanya sepuluh menit, tak lebih. Di sini saya lebih menekankan tentang pentingnya tauhid di banding ilmu lainnya. Bahwa mengesakan (menyembah) Allah adalah tugas utama kita sebagai manusia. Sebelum kita tersita dengan ilmu dunia, seharusnya kita menjadikan ilmu tauhid sebagai ‘gerbang pertama’ kita.

Setelah saya menutup ceramah singkat tersebut, tiba-tiba menghampiri seorang bapak paruh baya menyalami saya. Beliau menceritakan pengalamannya dulu, tentang bagaimana dia mencari Islam yang sebenarnya, Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam. Bukan Islam yang telah dicemari oleh para pengikutnya dengan nafsu dan syahwat.

Beliau bercerita bahwa dulu orang tuanya adalah seorang pemeluk agama Islam, namun masih mempraktikkan ajaran-ajaran seperti Hindu atau Budha. Atau lebih kita kenal dengan kejawen. Dari kecil bapak itu selalu semangat mencari ilmu. Datang ke berbagai kota, ke berbagai guru. Hampir semua ‘aliran’ sudah pernah dia jalani. Bahkan sebelumnya dia mengaku pernah seperti orang kafir. Mencari ilmu kebal, mandi di 7 sungai, mendaki gunung dengan maksud khusus mencari berkah, dan masih banyak lagi.

Ketika dia menceritakan walau sesekali diselingi dengan ketawa ringan karena perasaan geli mengingat masa lalunya yang kelam. Beliau juga sempat menangis. Bersyukur karena Allah menuntunnya ke jalan Ahlussunnah wal jama’ah. Golongan Islam yang ridho dengan Allah dan Allah meridhoinya memasuki jannahNya.

“Alhamdulillah mas, saya tidak dimatikan Allah ketika saya masih seperti itu. Alhamdulillah… saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya dimatikan saat itu…” seru Bapak itu sambil menahan tangis.

 

MasyaAllah. Saya terenyuh sekali dengan cerita bapak itu. Mengingatkan kita untuk bersyukur dengan umur kita, yaitu dengan memanfaatkan sebaik-baiknya dalam mencari ridhoNya. Beberapa jama’ah yang masih tinggal juga ikut bersyukur dengan hidayah dari Allah untuk bapak itu.

Satu pesan yang beliau sampaikan adalah untuk memanfaatkan waktu dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Karena ilmu yang kita dapat adalah yang menentukan siapa kita dan yang akan menyelematkan kita di dunia dan akhirat.

Setelah itu kami saling mendoakan, semoga Allah selalu menjaga dan membimbing kita di jalanNya. Ah, subhanallah.. betapa indah dan nikmatnya ukhuwah ini. 🙂

 

**ditulis Senin 29 Juli 2013

Semoga tulisan yang sedikit ini dapat mengingatkan kita kembali. 🙂

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: