Maaf. Satu kata sederhana saja. Tapi kata ini yang menjadi pembuka hati yang sempat terkunci dalam perasaan benci, bahkan dendam. Terkadang ‘hanya’ dengan kata itu semua hal-hal negatif itu hilang. Entah langsung hilang lenyap, atau perlahan. Atau mungkin hanya mereda sesaat saja, masih meninggalkan bekas.

Orang bilang, “Forgive is not forgetting.” Memaafkan bukan berarti melupakan. Ya, karena memang faktanya sebuah luka hanya bisa dimaafkan, bukan dilupakan. Seperti luka dalam artian sebenarnya, hanya bisa sembuh seiring berjalannya waktu. Time heals every wound. 

Namun, toh yang meminta maaf tidak ada salahnya. Meski luka yang sempat tergores sudah terlanjut menyakiti, tapi dengan meminta maaf pasti akan merubah sesuatu. Setidaknya merubah sikap pecundang dan gengsi kita. Bisa jadi orang yang kita ‘lukai’ sudah mampu bersikap bijak dan hanya menunggu kita untuk meminta maaf agar semuanya kembali normal.

“The weak can never forgive.” Begitu kata Mahatma Gandhi. Orang yang kalah dengan gengsi dan egonya, tidak akan mampu memaafkan orang lain, apalagi meminta maaf. Mereka yang enggan meminta maaf padahal mereka jelas-jelas yang berbuat salah adalah orang yang tidak tahu malu. Sudah salah, sombong lagi. Seakan dia sempurna tanpa cacat, sementara dia juga manusia biasa tempat salah dan lupa.

Lalu, bagaimana jika kita merasa tidak bersalah?

Terkadang ‘merasa’ tidak bersalah itu juga salah. Karena kita hanya melihat dari satu sudut pandang kita saja, yang faktanya lebih sering dikuasai oleh ego kita sendiri. Jadi, tidak ada salahnya meminta maaf saat kita diposisi tidak salah. Saya rasa itu tidak akan menurunkan harga diri kita. Justru menunjukkan bahwa kita bisa menguasai diri kita dari rasa gengsi.

Tapi saat kita benar-benar tidak bersalah, memang bukan hal yang mudah untuk memaafkan. Terlebih jika kesalahan orang lain itu bukan kesalahan yang kecil. Maka, hal yang paling luar biasa yang bisa kita lakukan adalah memaafkan. Meski orang yang bersalah tidak meminta maaf sekalipun.

Secara etika, jika kita melihat dari dua sisi yang berbeda, meminta maaf adalah hal yang sama-sama baik. Memang itu tidak mengubah keadaan. Tapi setidaknya itu akan menjaga hubungan yang sempat terganggu.

Cobalah untuk melepas perasaan gengsi kita. Gengsi hanyalah ego yang mengubah hubungan kita dengan orang lain. Ringanlah dalam meminta maaf dan memaafkan. InsyaAllah dengan demikian semua perasaan negatif akan hilang. Yang ada hanya perasaan bahagia karena kita sejatinya telah menang. Menang dari ego kita dan menang dari perasaan sombong.

Semoga tulisan yang singkat ini dapat mengingatkan kita untuk lebih bisa memaafkan setiap kesalahan. Ingat, tidak ada manusia yang lepas dari salah. Semua pasti pernah berbuat salah. Maka, meminta maaf dan memaafkan adalah cara terbaik untuk menyikapinya. 🙂

“The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong.” -Gandhi

Categories: Old Blog Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: