Pada tulisan kali ini saya akan membahas tentang reward  and punishment. Setiap orang suka dengan hadiah dan penghargaan. Begitu juga sebaliknya, tidak suka dengan hukuman. Untuk menambah semangat dalam belajar atau mungkin berkarya kita butuh reward sebagai electrify. Memang menghargai diri sendiri akan meningkatkan kepercayaan diri kita, juga akan mendorong kita untuk berkarya lebih baik. Tapi di satu sisi, saat kita gagal dengan apa yang menjadi target kita, kita butuh ‘alat’ agar kita tidak mengulangi kesalahan yang sama, hukuman. Pertanyaannya disini adalah “apakah itu perlu?”

Jika ditanya demikian, tentu saya akan menjawab,”Ya, reward dan punishment memang perlu diterapkan.” Alasannya kita harus menghargai diri kita sendiri, dengan begitu kita punya rasa percaya diri. Tapi apakah kita butuh untuk menghukum diri kita sendiri? Saya pikir tidak.

Kenapa?

Karena, tidak perlu Anda menghukum diri Anda, hukuman itu akan datang dengan ‘sendirinya’. Bukankah setiap tindakan pasti menghasilkan akibat. Dan setiap akibat memiliki sebab. Saat Anda patuh dan taat dengan peraturan yang ada, Anda akan mendapatkan penghargaan. Sebaliknya jika Anda melanggar peraturan, Anda akan mendapatkan hukuman. Oleh siapa? Oleh Anda sendiri.

“One bad move nullifies forty good one.” –Horowitz

Satu langkah jelek akan menghapus empat puluh langkah yang (sebenarnya) bagus. Quote tersebut berasal dari dunia catur. Dimana rata-rata ketika Anda dapat bermain dengan 40an langkah bagus, Anda tidak mungkin kalah. Tapi berbeda keadaannya apabila Anda melakukan satu saja kesalahan langkah. Anda akan kerepotan menjalankan bidak di langkah-langkah berikutnya, setelah itu kemungkinan Anda kalah akan jauh lebih besar.

Jadi, sebenarnya tidak ada waktu untuk menghukum diri sendiri. Justru menghukum diri sendiri hanya akan semakin menjatuhkan Anda. Dan tidak ada yang ingin dirinya lebih terpuruk setelah melakukan kesalahan. Dalam permainan catur, setiap langkah yang salah akan memberikan pengaruh buruk terhadap gaya permainan pemain. Secara langsung psikologi pemain akan down dan tentu saja akan berpengaruh terhadap langkah-langkah selanjutnya.  Sehingga yang harus Anda lakukan setelah satu langkah kesalahan adalah segera bangkit dan move on untuk melangkah dengan langkah yang benar. Tanpa jeda! Tidak boleh ada kesalahan setelah kesalahan.

Dulu, Umar ibn Khattab ‘menghukum’ dirinya ketika dia terlambat berjamaah shalat ashar. Dari Abdullah ibn Umar, ““Pada suatu hari ayah ku keluar meninjau kebun kurmanya, ketika tiba di dalam kota Madhinah, beliau melihat orang-orang sudah selesai shalat Ashar. Melihat para sahabatnya telah selesai shalat berjamaah Ashar, beliau sangat menyesal dan berkata, “Innaa lillahi wa innaa ilaihi roji’un,…aku terlambat sholat ashar berjamaah lantaran kebun kurma itu, Ya Allah, saksikanlah, kebun kurma itu aku sedekahkan kepada para fakir miskin sebagai kifarat atas kealpaan yang telah kulakukan…”

Tidak mengapa menerapkan hukuman kepada diri sendiri asalkan dengan maksud revenge kepada kesalahan dengan keberhasilan lain. Ya, tidak ada pembalasan yang paling elegan terhadap kesalahan-kesalahan kita kecuali dengan  keberhasilan.

Jika  Anda melakukan suatu kesalahan yang Anda sendiri tidak suka, kemungkinan justru akan membebani Anda. Jadi, sebaiknya jangan menghukum diri Anda dengan apa yang Anda tidak suka. Itu akan semakin memberatkan. Cobalah untuk menghukum dengan hal yang jelas bermanfaat dan Anda senang melakukannya. Misal, Anda tidak memenuhi target seperti tidak menulis atau meng-update blog, sebagai hukumannya Anda harus membaca Quran minimal sekian halaman., atau menghafal sekian ayat. Dengan begitu Anda justru menghargai diri Anda dengan hukuman yang positif. Bukankah maksud dari reward dan punishment adalah agar kita bangkit? 🙂

Tentang reward and punishment tentu kita sendirilah yang paling tahu. Dengan reward seperti apa agar kita lebih termotivasi. Dengan hukuman seperti apakah kita jadi tersadar akan kesalahan kita dan segera berbenah diri, kita sendiri yang tahu. Kuncinya dalam hal ini memang kita harus mengenali diri sendiri. Dengan begitu kita akan tahu seberapa banyak porsi reward atau punishment yang berdampak baik untuk kita.

Akhir kata, bersikaplah lebih bijak dalam menyikapi diri sendiri. 🙂

Categories: Old Blog Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: