Anda pasti pernah dengar sebuah pepatah yang bunyinya seperti ini, “Di atas langit masih ada langit.” Apa yang Anda pikirkan ketika pertama kali mendengar ini? Membayangkan langit yang bertingkat dan berlapis-lapis, atau mungkin membayangkan kemampuan orang yang berbeda level ?

Kita pasti suka berimajinasi, dan setiap dari imajinasi kita tidak mungkin sama persis. Dua contoh di atas adalah buah imajinasi saya waktu pertama kali mendengar pepatah tersebut. Tetapi, lambat laun saya sedikit memaknai pepatah itu dengan pengertian saya sendiri. Maklum, saya memang orang yang sangat suka meng-imajinasikan sesuatu. Biar hidup tidak monoton dan membosankan, begitu pikir saya.

Jika kita memahami setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda dan bertingkat-tingkat, lalu apakah Anda bisa mengetahui siapakah yang lebih ahli siapakah yang lebih newbie ? Pasti kita hanya melihat dari satu sudut pandang saja, yaitu dari satu bidang tertentu. Maksud saya, membandingkan seseorang pada salah satu bidang saja. Bukan begitu?

Padahal setiap orang mempunyai keahlian yang bermacam-macam. Si A lebih ahli dalam bidang X, sedangkan si B lebih ahli dalam bidang Y. Jadi ketika kita membandingkan dengan siapa yang lebih pandai dalam satu bidang, saya rasa itu tidak adil. Tuhan memang menciptakan manusia dengan beragam dan berbeda. Agar kita bisa memaknai keberagaman itu menjadi komunikasi yang saling membutuhkan. Seorang dokter sekalipun, ketika sakit pasti membutuhkan dokter yang lain. Tidak mungkin kan dia mengobati dirinya sendiri. Begitu juga sebuah lembaga penegak hukum ketika ‘sakit’, pasti perlu ditindak lembaga penegak hukum lain. Hehe, yang terakhir ini adalah prahara yang sedang melanda para petinggi rakyat kita.

Saya suka sekali mendengarkan motivasi-motivasi yang dilakukan oleh motivator handal. Terkadang jika ada uang lebih, saya menyempatkan mengikuti seminar-seminar pengembangan diri. Saya juga sering membaca buku-buku dari motivator. Tak lupa nongkrongi acara di TV yang menurut saya mencerahkan. Sekilas, ketika kita melihat para motivator yang sedang memotivasi, seakan mereka adalah orang yang hampir sempurna (sedikit berlebihan :D). Saat mendengarkan mereka, kita seperti ‘diseret’ dalam dunia yang penuh gairah, penuh dengan semangat. Tidak ada rasa pesimistis, tidak ada keraguan untuk memulai langkah.

Tapi, sadarkah Anda bahwa motivator juga butuh dimotivasi? Mereka juga manusia biasa yang pernah merasakan keraguan. Motivator juga manusia yang bisa lupa bagaimana caranya kembali bersemangat.

Dari sini saya kembali diingatkan oleh surah Al ‘Ashr.

Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.

Sebuah surah yang sampai-sampai Imam Syafi’i berkata, “Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.”

Ya, setiap orang butuh untuk diingatkan. Setiap orang butuh untuk dinasihati. Seperti semua orang yang butuh untuk dicintai disamping mencintai :).

Karena tidak ada orang yang punya kemampuan sama, maka kita akan saling membutuhkan dan saling dibutuhkan. Sekuat apapun Anda, sehebat apapun Anda, pasti Anda akan membutuhkan orang lain. Begitu juga, selemah apapun Anda, jangan khawatir ! Percaya sama saya, suatu saat pasti ada orang yang sangat membutuhkan Anda, pasti akan ada orang yang mencintai Anda dengan penuh ketulusan.

Akhir kata, mari semangat berbagi dan memberi 🙂


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: